
Dalam lanskap pariwisata lokal, kombinasi itu adalah proposisi nilai yang jelas. Harga tiketnya relatif terjangkau—Rp15.000 pada hari biasa dan Rp20.000 saat akhir pekan atau hari libur—sudah termasuk akses kolam dan gazebo. Jam operasionalnya panjang, pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Fasilitasnya memadai untuk kelas wisata keluarga: dua kolam anak dengan seluncuran, satu kolam dewasa, gazebo, kantin, panggung hiburan, area parkir luas, toilet bersih, dan musholla.
Secara ekonomi, ini adalah model yang menjanjikan: harga ramah keluarga, lokasi tidak terlalu jauh dari kota, dan pengalaman yang “menyatu dengan alam.” Tak mengherankan jika akhir pekan dan musim libur memicu lonjakan pengunjung.
Namun justru di situlah ujian sebenarnya dimulai.
Ketika Daya Tarik Melampaui Daya Tampung
Pada hari biasa, Durian Hill terasa seperti pelarian yang pas. Kolam masih lapang. Anak-anak leluasa bermain. Orang tua bisa menggelar botram di gazebo tanpa harus bersaing memperebutkan ruang. Lanskap perbukitan tetap menjadi latar yang menenangkan.
Tetapi ketika arus pengunjung memuncak, terutama pada akhir pekan, proporsi berubah. Dengan komposisi tiga kolam—dua untuk anak dan satu untuk dewasa—kapasitas air menjadi terbatas. Kolam anak yang semestinya menjadi ruang riang berubah padat. Kolam dewasa kehilangan rasa privatnya.
Area penyimpanan barang di tepi kolam ikut terdampak. Tas, bekal, dan tikar botram berhimpitan. Gazebo yang termasuk dalam tiket memang menjadi nilai tambah, tetapi ketika jumlah pengunjung melebihi perhitungan ideal, ruang santai berubah menjadi ruang tunggu yang penuh.
Dalam teori ekonomi pariwisata, ini disebut persoalan carrying capacity—batas jumlah pengunjung yang bisa ditampung tanpa menurunkan kualitas pengalaman. Jika batas itu dilampaui, produk utama—kenyamanan—mulai tergerus.
Durian Hill menjual suasana, bukan sekadar kolam.
Kenyamanan sebagai Aset Inti
Yang membuat tempat ini berbeda bukan wahana ekstrem atau atraksi berskala besar, melainkan konteksnya: kaki Gunung Sawal, udara sejuk, kesan alami. Bahkan sejumlah ulasan pengunjung menyarankan membawa perlengkapan renang sendiri karena kawasan ini masih berkembang dan belum sepenuhnya dilengkapi peneduh tambahan. Artinya, ekspektasi publik bukan kemewahan—melainkan pengalaman alami yang nyaman.
Ketika kolam menjadi terlalu sesak, pengalaman itu berubah. Anak-anak kehilangan ruang gerak. Orang tua kesulitan mengawasi dengan tenang. Kepadatan bukan sekadar isu estetika; ia menyentuh persepsi keamanan dan kualitas rekreasi keluarga.
Ironisnya, popularitas adalah bukti keberhasilan. Tetapi tanpa penyesuaian kapasitas, keberhasilan itu bisa menggerus reputasi.
Antara Ekspansi dan Manajemen Arus
Pilihan ke depan relatif jelas. Pertama, ekspansi fisik: memperluas kolam, menambah unit kolam baru, atau menciptakan zona air terpisah untuk kelompok usia berbeda. Kedua, memperbesar dan menata ulang area penyimpanan barang serta ruang botram agar tidak menumpuk di tepi kolam.
Alternatif lainnya adalah manajemen arus pengunjung: pembatasan tiket harian pada jam sibuk, sistem reservasi akhir pekan, atau diferensiasi harga berbasis waktu kunjungan. Dengan harga tiket yang masih terjangkau, sedikit penyesuaian untuk menjaga kualitas pengalaman mungkin justru memperkuat citra premium yang berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, ukuran keberhasilan destinasi keluarga bukanlah sekadar jumlah pengunjung, melainkan tingkat kepuasan yang membuat mereka kembali.
Durian Hill telah membuktikan bahwa Ciamis memiliki permintaan rekreasi alam yang kuat. Fondasinya solid: lokasi strategis, harga bersahabat, fasilitas dasar memadai, dan lanskap yang bekerja hampir tanpa perlu rekayasa.
Kini tantangannya lebih teknis namun krusial: menjaga agar suasana nyaman dan indah itu tidak larut oleh kepadatannya sendiri.
Karena di kaki gunung, orang datang untuk bernapas lebih lega. Dan ruang bernapas—baik di udara maupun di dalam kolam—tidak pernah bisa dibagi tanpa batas.