Di tepian Situ Lengkong yang tenang, sebuah perubahan pelan namun pasti sedang berlangsung. Wisata Alam Peuntas, yang berdiri di Blok Dukuh Peuntas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, bukan sekadar destinasi baru. Ia adalah cerminan bagaimana optimisme lokal dapat mengubah lahan tak terawat menjadi ruang harapan.
Beberapa tahun lalu, kawasan itu hanyalah lahan kosong. Kini, dalam hamparan sekitar satu hektare, pengunjung menemukan panorama danau yang luas, udara yang sejuk, dan suasana yang mengundang jeda dari rutinitas harian. Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Ia tumbuh dari komitmen, kerja bertahap, dan keyakinan bahwa alam, jika dikelola dengan cermat, mampu menjadi fondasi kesejahteraan.
Meski masih dalam tahap pembenahan, denyut pertumbuhannya terasa. Kunjungan stabil pada hari kerja dan meningkat signifikan saat akhir pekan serta hari libur nasional. Bagi destinasi yang relatif muda, pola ini adalah indikator kepercayaan publik yang mulai terbentuk.
Daya tarik Peuntas bukan hanya lanskapnya. Dermaga Cinta yang menghadap danau, wahana permainan anak, kolam renang, sepeda gantung, hingga perahu wisata menghadirkan spektrum pengalaman bagi keluarga. Di sisi lain, konsep river tubing dan body rafting di aliran sungai yang jernih memberi sentuhan petualangan yang relevan bagi generasi muda. Jembatan kayu dan spot foto yang estetik menunjukkan bahwa pengelola memahami bahasa visual era digital—bahwa pengalaman hari ini juga hidup di layar ponsel.
Yang menarik, semua itu ditawarkan dengan tarif yang inklusif. Tiket masuk yang sangat terjangkau, biaya parkir yang ramah, opsi vila, hingga area camping membuka akses bagi berbagai segmen pengunjung. Dalam ekonomi pariwisata, aksesibilitas harga sering kali menjadi pembeda antara destinasi yang ramai sesaat dan yang berkelanjutan.
Namun optimisme terbesar justru terletak pada dampaknya bagi masyarakat sekitar. Warung-warung lokal yang menyajikan nasi liwet, area makan yang tertata, hingga peluang kerja bagi warga menunjukkan bahwa Peuntas tidak berdiri sebagai pulau eksklusif. Ia terhubung dengan ekosistem sosial di Panjalu.
Lokasinya yang hanya sekitar 500 meter dari jalur utama dengan akses jalan yang baik memperkuat posisi strategisnya. Infrastruktur dasar tersedia, ruang parkir memadai, dan pengembangan dilakukan tanpa kehilangan karakter pedesaan yang menjadi daya tarik utama.
Tantangan tentu ada. Pembenahan harus konsisten, standar keselamatan aktivitas air perlu dijaga, dan kualitas fasilitas mesti terus ditingkatkan agar pertumbuhan kunjungan tidak mengorbankan kenyamanan. Tetapi justru di sanalah letak peluangnya: Peuntas masih berada dalam fase di mana arah masa depannya dapat dibentuk dengan visi jangka panjang.
Di tengah kompetisi destinasi dan perubahan selera wisatawan, Peuntas menunjukkan bahwa pariwisata tidak selalu membutuhkan investasi raksasa. Kadang, yang dibutuhkan adalah keberanian memulai, kesabaran membangun, dan kemauan melibatkan masyarakat.
Jika konsistensi terjaga, Wisata Alam Peuntas berpotensi menjadi lebih dari sekadar tempat berlibur. Ia dapat menjadi model bagaimana inisiatif lokal di Panjalu membangun ekonomi berbasis alam—perlahan, inklusif, dan berkelanjutan. Dan di tepi Situ Lengkong yang tenang itu, optimisme tampaknya bukan sekadar wacana, melainkan sedang bekerja.
