Di banyak kota kecil Indonesia, sungai kerap diperlakukan sebagai halaman belakang—tempat pembuangan, bukan panggung kehidupan. Di Ciamis, pola lama itu mulai dibalik. Kawasan yang kini dikenal sebagai Cileueur River Walk adalah eksperimen ambisius untuk mengubah bantaran Sungai Cileueur menjadi wajah depan kota.
Transformasinya bukan kosmetik. Dahulu, bantaran ini dipenuhi permukiman padat yang membelakangi sungai. Melalui program KOTAKU yang digagas Kementerian PUPR sejak 2019, kawasan itu ditata ulang: rumah-rumah kini menghadap ke air, jalur pedestrian dibangun memanjang, dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal dipasang untuk menekan pencemaran.
Bagi sebuah kota kabupaten, ini bukan proyek kecil. Ini adalah pernyataan arah: bahwa kualitas ruang publik adalah fondasi daya saing pariwisata.
Dari Ruang Kumuh ke Ruang Komunitas
Memasuki 2026, Cileueur River Walk belum menjadi magnet wisata besar. Namun ia mulai menemukan denyutnya. Pada akhir pekan, ruang-ruang terbuka di sepanjang sungai berubah menjadi panggung komunitas (tetapi sangat jarang)—dari aktivitas melukis, pembacaan puisi, hingga senam pagi bersama.
Gerakan bersih-bersih sungai yang melibatkan birokrasi dan warga pada awal tahun ini juga memberi sinyal penting: keberlanjutan tidak bisa hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga partisipasi sosial. Dalam ekonomi pariwisata modern, ekologi dan citra kota berjalan beriringan.
Geliat UMKM di sekitar bantaran pun mulai terlihat. Pedagang kecil memanfaatkan arus pelari pagi dan pengunjung “healing murah meriah.” Ini masih skala mikro, tetapi justru di sanalah indikator awal pertumbuhan organik dapat dibaca.
Potensi yang Masih Setengah Jalan
Namun optimisme tidak boleh menutup mata pada realitas. Di hari kerja, kawasan ini cenderung lengang. Pamornya masih tertinggal dibanding ruang publik populer seperti Alun-Alun Ciamis atau Taman Lokasana. Brandingnya belum kuat, narasinya belum tajam.
Infrastruktur pun masih “nanggung.” Jalur pedestrian dari Jembatan Maleber belum sepenuhnya tembus ke Jembatan Tonjong—menyisakan jarak yang mengganggu pengalaman lari atau jalan santai. Bagi destinasi berbasis aktivitas fisik, kesinambungan rute adalah segalanya.
Kerentanan alam juga menjadi faktor. Fasilitas di tepi sungai sangat bergantung pada cuaca. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa tembok penahan tanah dapat rusak saat musim hujan ekstrem. Tanpa anggaran perawatan dan pengawasan yang konsisten, revitalisasi berisiko mundur menjadi siklus lama: dibangun, rusak, lalu terbengkalai.
Yang paling terasa adalah absennya kalender acara berskala tetap. Pariwisata membutuhkan alasan untuk datang—festival kuliner sungai, pasar seni akhir pekan, lomba lari tahunan, atau event tematik yang mampu mengikat memori kolektif. Tanpa itu, Cileueur River Walk akan tetap menjadi ruang publik yang baik, tetapi belum tentu destinasi.
Sungai sebagai Strategi Kota
Meski demikian, Cileueur River Walk menyimpan keunggulan strategis: ia berada di pusat kota, terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari warga. Dalam banyak studi urban tourism, ruang publik yang hidup justru lebih berkelanjutan daripada destinasi buatan yang terisolasi.
Di titik lain aliran Sungai Cileueur—seperti kawasan desa wisata di hulu—aktivitas river tubing telah menunjukkan bahwa sungai dapat menjadi poros wisata petualangan. Jika narasi ini disatukan—dari pedestrian estetik di pusat kota hingga wisata arus deras di pinggiran—Ciamis memiliki peluang membangun identitas wisata berbasis sungai yang utuh.
Taruhan sesungguhnya bukan pada panjang jalur atau jumlah spot foto, melainkan pada konsistensi visi. Apakah sungai akan terus diperlakukan sebagai aset strategis? Apakah promosi dan event akan dirancang dengan disiplin tahunan? Apakah kolaborasi pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha bisa dijaga?
Cileueur River Walk sudah membuktikan satu hal: perubahan itu mungkin. Dari kawasan kumuh menjadi ruang terbuka yang layak dibanggakan. Langkah berikutnya adalah memastikan ia tidak berhenti sebagai proyek revitalisasi, melainkan tumbuh menjadi ikon pariwisata perkotaan Ciamis yang hidup—bukan hanya indah, tetapi juga ramai, produktif, dan berkelanjutan.
