Banyak kota membangun infrastruktur olahraga dengan harapan melahirkan atlet. Tidak sedikit pula yang berakhir dengan ghost venue—arena megah yang hanya ramai saat peresmian lalu sepi setelahnya.
Ciamis memilih jalan yang berbeda.
Setiap Minggu pagi, kawasan Sirkuit BMX di Cigembor berubah fungsi. Tempat yang dirancang untuk sepeda balap profesional itu menjelma menjadi pasar dadakan: ratusan pedagang, aroma nasi TO dan gorengan, anak-anak berlari, dan keluarga yang menjadikan sarapan sebagai rekreasi.
Secara tata kota, ini mungkin terlihat tidak rapi. Secara ekonomi, ini justru efisien.
Kebijakan yang Tidak Dirancang di Ruang Seminar
Pasar Mingguan BMX bukan muncul secara spontan. Ia berawal dari keputusan pemerintah daerah beberapa tahun lalu untuk merelokasi pedagang kaki lima dari pusat kota, terutama kawasan Alun-alun. Tujuannya sederhana: mengurangi kepadatan keramaian di pusat sekaligus menciptakan pusat aktivitas baru.
Banyak kebijakan relokasi PKL di Indonesia gagal karena memindahkan pedagang berarti juga memindahkan pelanggan—dan pelanggan tidak selalu ikut pindah. Di Cigembor, yang terjadi sebaliknya. Keramaian justru tumbuh.
Alasannya bukan administratif, melainkan geografis. Sirkuit BMX memiliki satu keunggulan yang sering diremehkan dalam perencanaan ekonomi lokal: ruang terbuka yang luas, parkir memadai, dan suasana rekreatif. Orang datang bukan hanya untuk belanja, tetapi untuk menghabiskan waktu.
Dalam ekonomi modern, itu disebut experience consumption. Konsumsi tidak lagi semata membeli barang, tetapi membeli suasana.
Ekonomi Informal yang Terorganisasi
Setiap Minggu pagi, ratusan pelaku UMKM menggantungkan omzetnya pada beberapa jam aktivitas. Tanpa subsidi langsung, tanpa bangunan permanen, tanpa proyek besar, terbentuk sebuah ekosistem ekonomi mikro.
Pasar ini bekerja seperti inkubator bisnis alami. Pedagang baru bisa mencoba produk tanpa biaya sewa tinggi. Jika laku, mereka berkembang; jika tidak, kerugian relatif kecil. Risiko usaha tersebar, bukan terpusat.
Di banyak kota besar, pemerintah membangun pusat UMKM dengan dana miliaran rupiah. Di Cigembor, pusat UMKM tumbuh dari parkiran.
Fenomena ini mengingatkan satu prinsip klasik ekonomi perkotaan: aktivitas ekonomi muncul di tempat orang berkumpul, bukan di tempat pemerintah berharap orang akan berkumpul.
Dan orang berkumpul di sana karena pasar tersebut sekaligus ruang sosial murah. Sarapan keluarga menjadi alternatif rekreasi. Dalam kondisi daya beli yang fluktuatif, kombinasi kuliner murah dan ruang terbuka hijau adalah paket hiburan yang paling stabil.
Nilai Sebuah Infrastruktur
Dari sudut pandang fiskal, fenomena ini lebih menarik lagi. Infrastruktur olahraga biasanya memiliki biaya perawatan tinggi dan tingkat penggunaan rendah. Namun ketika ruang tersebut digunakan secara multifungsi, biaya sosial pembangunannya turun drastis.
Sirkuit BMX tidak hanya menghasilkan atlet; ia menghasilkan perputaran uang lokal. Pedagang memperoleh pendapatan, petani sekitar memasok bahan pangan, parkir bergerak, dan ekonomi mikro hidup.
Dengan kata lain, satu aset publik melayani dua sektor sekaligus: olahraga dan ekonomi rakyat.
Banyak pemerintah daerah berbicara tentang optimalisasi aset. Cigembor melakukannya tanpa dokumen strategi setebal rencana induk.
Masalah yang Tidak Bisa Diabaikan
Namun keberhasilan informal selalu membawa konsekuensi formal: sampah.
Setelah keramaian usai, persoalan klasik muncul—limbah makanan, plastik, dan kebersihan kawasan. Di sinilah batas ekonomi spontan terlihat. Pasar mampu menciptakan nilai, tetapi tidak otomatis menciptakan tata kelola.
Ada pula persoalan lain: sirkuit tersebut tetap arena olahraga aktif. Kompetisi balap sepeda membutuhkan lintasan steril, sementara pasar membutuhkan ruang terbuka. Dua fungsi ini tidak selalu sejalan.
Ini bukan sekadar masalah kebersihan atau penertiban, melainkan masalah manajemen ruang publik. Kota modern tidak kekurangan aktivitas, tetapi sering kekurangan aturan penggunaan yang disiplin.
Jika zonasi longgar, fasilitas olahraga bisa rusak. Jika terlalu ketat, ekonomi rakyat tertekan.
Pelajaran Perencanaan Kota
Pasar Mingguan Cigembor memberi satu pelajaran penting bagi kebijakan publik: ruang publik terbaik adalah ruang yang fleksibel.
Perencanaan kota sering berangkat dari fungsi tunggal—taman untuk rekreasi, pasar untuk perdagangan, stadion untuk olahraga. Namun kehidupan kota tidak berjalan dalam kategori tersebut. Warga menggunakan ruang berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan papan nama.
Kebijakan yang berhasil bukan yang paling terencana, melainkan yang paling adaptif.
Ciamis mungkin tidak bermaksud menciptakan model ekonomi urban baru. Tetapi tanpa disadari, kawasan Cigembor menunjukkan bagaimana ekonomi lokal dapat tumbuh ketika pemerintah tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga memberi ruang penggunaan.
Pada akhirnya, pasar Mingguan itu bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah bukti bahwa ekonomi kota kecil tidak selalu membutuhkan mal, investor besar, atau kawasan komersial modern.
Kadang ia hanya membutuhkan satu hal sederhana: tempat orang mau datang—secara rutin, setiap Minggu pagi.
Dan dari rutinitas itulah, ekonomi lahir.
%20sedang%20latihan%20di%20lintasan%20sirkuit%20Ciamis.jpg)